Piagam Madinah memiliki arti penting dalam sejarah pemerintahan Islam:
Ketika hendak mengikatkan makanan dan tempat minum agar mudah dibawa, Asma’ mendapati tidak ada tali yang cukup. Dengan keberanian dan ketegasan, ia merobek ikat pinggangnya menjadi dua bagian: satu untuk mengikat makanan dan satu untuk wadah minum. Atas tindakan itu, Rasulullah SAW menyebutnya Dzatun Nithaqain—sebuah penghargaan yang kekal hingga kini.
Keberaniannya dalam menjaga rahasia dan mendukung perjuangan dakwah menjadi bukti bahwa perempuan juga memiliki peran besar dalam sejarah Islam, bahkan di tengah situasi penuh ancaman.
Beliau mendapat julukan Dzatun Nithaqain (perempuan pemilik dua selendang) karena kisah pengorbanannya saat membantu Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar dalam peristiwa hijrah ke Madinah.
Karena tidak memiliki tali untuk mengikat makanan, Asma’ membelah selendangnya menjadi dua bagian: satu untuk mengikat makanan, satu lagi untuk air. Rasulullah kemudian memberinya julukan Dzatun Nithaqain sebagai penghargaan atas pengorbanannya.
Nama Quraisy sendiri memiliki beberapa makna. Ada yang menafsirkan berasal dari kata qarasya yang berarti “mengumpulkan”, merujuk pada kemampuan mereka mengorganisasi perdagangan. Ada pula yang mengaitkan dengan istilah hewan laut kuat bernama qirsy (anjing laut), melambangkan kekuatan dan dominasi.
Kemunduran Quraisy dimulai setelah Fathu Makkah (Penaklukan Makkah) pada tahun 630 M. Banyak tokoh Quraisy yang akhirnya masuk Islam, termasuk Abu Sufyan dari Bani Umayyah. Sejak itu, kekuasaan Quraisy bergeser dari dominasi perdagangan menuju kepemimpinan politik dalam Islam. Meski demikian, keturunan Quraisy tetap memainkan peran penting, bahkan melahirkan dinasti besar seperti Umayyah dan Abbasiyah.
Sejak muda, Abu Bakar dikenal sebagai sosok yang jujur, dermawan, dan memiliki akhlak mulia. Beliau adalah sahabat dekat Nabi Muhammad saw dan termasuk orang pertama yang masuk Islam (Assabiqunal Awwalun).
Abu Bakar lahir pada tahun 573 M dan wafat pada 23 Agustus 634 M di Madinah. Beliau berusia 60 tahun saat wafat. Masa kepemimpinannya sebagai khalifah berlangsung selama 2 tahun 77 hari, dari 632 M hingga 634 M.
Abu Bakar wafat di Madinah dan dimakamkan di Masjid Nabawi, tepat di samping makam Nabi Muhammad saw. Sebelum wafat, beliau menunjuk Umar bin Khattab sebagai penerus kepemimpinan umat Islam.
Sejak kecil, Muhammad dikenal jujur dan amanah, sehingga masyarakat Makkah memberinya gelar Al-Amin (yang terpercaya).
Nabi Muhammad saw menerima wahyu pertama pada usia 40 tahun di Gua Hira, Makkah. Beliau kemudian berdakwah selama 23 tahun, 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah. Nabi wafat pada usia 63 tahun di Madinah, pada 8 Juni 632 M (11 Hijriah).
Menjelang wafat, Nabi Muhammad saw menyampaikan khutbah terakhir dalam Haji Wada. Beliau menekankan pentingnya Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup umat Islam. Nabi wafat di Madinah dan dimakamkan di Masjid Nabawi, tepat di bawah Kubah Hijau yang kini menjadi salah satu situs paling suci bagi umat Islam.
Sebelum hijrah, situasi di Makkah semakin penuh tekanan. Kaum Quraisy terus menghalangi dakwah Islam, menyiksa pengikut Nabi, dan mempersempit ruang gerak umat Muslim. Di tengah tekanan itu, datang kabar dari Yatsrib—kelak dikenal sebagai Madinah—bahwa masyarakat di sana mulai membuka diri terhadap ajaran Islam. Dua kali perjanjian Aqabah menunjukkan komitmen suku Aus dan Khazraj untuk menerima Nabi, melindungi beliau seperti keluarga sendiri, dan menjadi bagian dari perjuangan Islam.
Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis. Ini adalah strategi besar yang membuktikan kecerdasan politik Nabi Muhammad saw. Beliau memastikan bahwa dakwah tidak lagi berada dalam tekanan, tetapi menuju tempat yang dapat menjadi pusat pembentukan masyarakat Islam yang mandiri.
Hijrah menjadi titik lahirnya sejarah Islam Madinah, sebuah era yang menghadirkan perubahan besar dalam dunia Islam.