Amr bin al-As lahir sekitar tahun 573 M di Mekah, Hijaz, dari keluarga Banu Sahm, salah satu klan Quraisy yang berpengaruh. Ayahnya bernama Al-As ibn Wa’il, seorang tokoh terpandang, sementara ibunya adalah Al-Nabigha bint Harmala. Kehidupan masa kecil Amr di Mekah membentuknya sebagai sosok cerdas, pandai berdiplomasi, dan memiliki kemampuan komunikasi yang luar biasa. Inilah yang kelak menjadikannya salah satu sahabat Nabi Muhammad yang berperan besar dalam sejarah Islam.
Mengenal Amr bin al-As dan Perjalanan Menuju Islam
Awalnya, Amr bin al-As dikenal sebagai sosok yang menentang dakwah Nabi Muhammad. Namun, setelah melalui perjalanan panjang, ia akhirnya menerima Islam sekitar tahun 629–630 M. Keputusan ini menjadi titik balik dalam hidupnya. Dengan kecerdasan politik dan kepiawaian militer, Amr segera dipercaya untuk menjalankan misi penting, termasuk mengislamkan penguasa Oman atas perintah Rasulullah.
Keluarga Amr bin al-As
Dalam kehidupan pribadinya, Amr bin al-As menikah dengan beberapa wanita, di antaranya Rayta atau Hind binti Munabbih ibn al-Hajjaj, seorang perempuan dari suku Bali, serta Umm Kulthum binti Uqba. Dari pernikahan tersebut, ia memiliki anak-anak, termasuk Abd Allah dan Muhammad. Keluarga Amr bin al-As menjadi bagian penting dalam sejarah Islam, terutama karena anak-anaknya juga berperan dalam perkembangan dakwah dan pemerintahan Islam.
Amr bin al-As dikenal sebagai sosok yang panjang umur. Ia wafat sekitar tahun 664 M di Mesir pada usia 90–91 tahun. Usia yang panjang ini membuatnya menyaksikan berbagai fase penting dalam sejarah Islam, mulai dari masa Rasulullah, kepemimpinan Abu Bakar, Umar, Utsman, hingga awal pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
Kiprah Politik dan Militer
Sebagai panglima, Amr bin al-As memainkan peran penting dalam penaklukan Palestina dan Mesir. Ia memimpin pasukan Muslim dalam pertempuran Ajnadayn (634 M) dan Yarmuk (636 M), yang menjadi titik kemenangan besar atas Bizantium. Keberhasilannya menaklukkan Mesir menjadikannya gubernur pertama wilayah tersebut. Di bawah kepemimpinannya, kota Fustat didirikan, dan ia membangun Masjid Amr bin al-As, masjid pertama di Afrika yang masih berdiri hingga kini.
Wafat Amr bin al-As
Amr bin al-As wafat di Mesir pada tahun 664 M. Sebelum meninggal, ia dikenal sebagai sosok yang penuh refleksi. Dalam riwayat, ia pernah berkata bahwa hidupnya terbagi dalam tiga fase: masa permusuhan terhadap Islam, masa penerimaan Islam dan perjuangan bersama Nabi, serta masa kepemimpinan politik yang penuh ujian. Wafatnya menutup perjalanan panjang seorang sahabat yang dikenal sebagai diplomat ulung dan panglima besar.
Warisan terbesar Amr bin al-As adalah kontribusinya dalam memperluas wilayah Islam dan membangun fondasi pemerintahan di Mesir. Ia dikenang sebagai sosok yang cerdas, strategis, dan mampu menggabungkan diplomasi dengan kekuatan militer. Kehidupannya menjadi inspirasi tentang bagaimana kecerdasan politik dan keberanian bisa mengubah sejarah.
Kesimpulan
Amr bin al-As adalah sosok sahabat Nabi yang patut dikenang. Dari tempat lahir Amr bin al-As di Mekah, perjalanan menuju Islam, kiprah militer, hingga wafat Amr bin al-As di Mesir, semuanya menunjukkan betapa besar perannya dalam sejarah Islam. Kehidupan pribadinya bersama istri dan anak Amr bin al-As juga menambah dimensi humanis dalam kisahnya.